sumber gambar: http://iptek.apjii.or.id/budidaya%20perikanan/PEMD/Belut/img/Belut_1_p1.jpg
Semua orang pasti tahu tentang beLut (Monopterus aLbus), hanya saja mungkin beLum semuanya merasakan keLezatan makhLuk licin ini. Sekarang ini sudah banyak warung dan bahkan restoran yang menyajikan menu beLut; baik itu beLut goreng, guLai beLut, dendeng beLut maupun menu oLahan Lainnya. Pernahkah terpikirkan oLeh Anda bahwa seLama ini beLut konsumsi hanya mengandaLkan hasiL tangkapan dari aLam yang tentu saja jumLahnya semakin menipis. Ini menjadi saLah satu peLuang yang sangat menjanjikan jika ditindakLanjuti secara serius karena ternyata beLut dapat dibudidayakan.
Tahukah Anda, beLut memiLiki banyak khasiat jika kita rajin mengkonsumsinya. BeLut sangat bermanfaat bagi kesehatan, seLain mampu menguatkan daya tahan tubuh, juga menormaLkan tekanan darah, menghaLuskan kuLit, mencegah penyakit mata, menguatkan daya ingat, dan membantu mencegah hepatitis. Secara khusus, kepaLa beLut jantan diyakini sebagian orang membantu meningkatkan hormon vitaLitas pria dan menghiLangkan pegaL-pegaL pada pinggang.

sumber gambar: http://www.kompas.com/kesehatan/news/0409/05/014102.jpg
Salah satu proses pengoLahan beLut yang reLatif sederhana adaLah dendeng beLut. Untuk membuat dendeng beLut, maka pertama-tama beLut dibeLah dan dibersihkan kotorannya. SeteLah dikeringkan seLanjutnya daging beLut dibumbui dengan Lengkuas, guLa, bawang putih, dan beberapa bumbu masak Lainnya. Daging yang teLah dibumbui kemudian dijemur sampai kering. Yang harus diingat adaLah belut yang akan dioLah harus segar sehingga dendeng yang dihasiLkan bisa awet sampai beberapa buLan.
Saya tidak akan membahas tentang pengoLahan hasiL beLut secara Lebih Lanjut tetapi justru akan Lebih terfokus pada budidaya beLut dengan cara intensif. Jadi bagi Anda yang tertarik pada pengoLahan beLut, saya mohon maaf beLum dapat memberikan data seLengkapnya, siLakan googLing, saya yakin banyak sekaLi data yang tersedia.
Secara garis besar ada 3 haL utama yang harus dicermati untuk memuLai budidaya beLut konsumsi, yaitu :
· KoLam
· Media PemeLiharaan
· PeLaksanaan PemeLiharaan
Mari kita bahas satu per satu…
· Kolam
Pembuatan koLam pembesaran beLut diawaLi dengan perencanaan konstruksi koLam apakah berupa koLam bawah tanah (koLam gaLi) atau koLam di atas tanah (koLam tembok), seLanjutnya pemiLihan Lahan yang tepat untuk koLam. KoLam pembesaran beLut dengan menggunakan koLam permanen (tembok) memiLiki ukuran maksimaL 500 cm x 500 cm dengan kedaLaman 120cm.
Namun demikian anda juga bisa menggunakan koLam terpaL dengan ukuran 450 cm x 200 cm dengan kedaLaman 120 cm. Menggunakan koLam terpaL memang Lebih efisien dan mudah dipindahkan apabiLa ingin dipindahkan ke tempat Lain.
· Media Pemeliharaan
SeteLah koLam siap, Langkah seLanjutnya adaLah mengisi koLam dengan media pemeLiharaan dengan urutan dan ukuran sebagai berikut :
1. Jerami setinggi 25 – 40 cm.
2. Pupuk Urea 5 kg dan NPK 5 kg (koLam berukuran 500 cm x 500 cm atau perbandingannya).
3. Lumpur / tanah setinggi 5 cm.
4. Pupuk kandang setinggi 5 cm.
5. Pupuk kompos setinggi 5 cm.
6. Lumpur / tanah setinggi 5 cm.
7. Cincangan batang pohon pisang setinggi 10 cm.
8. Lumpur / tanah setinggi 15 cm.
9. Air setinggi 15 cm.
10. Eceng gondok sebanyak 3/4 Luas permukaan koLam.
sumber gambar: google search engine.
Media pemeLiharaan ini didiamkan agar terjadi proses permentasi seLama kurang Lebih 2 minggu atau paLing Lama 1 buLan sehingga siap untuk ditaburi bibit / benih beLut yang akan dibudidayakan. Media yang sudah terfermentasi akan menghasiLkan jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik sumber yang merupakan pakan aLami beLut.
· Pelaksanaan Pemeliharaan
PeLaksanaan pembesaran dapat dimuLai seteLah koLam dan media pemeLiharaan siap. Langkah berikutnya adaLah memiLih bibit beLut yang baik agar hasiLnya dapat maksimaL. Bibit beLut harus dipiLih yang sempurna atau normaL dan menyingkirkan yang tidak normaL. BeLut yang berkuaLitas akan menghasiLkan hasil yang baik, sehingga akan berkembang dengan baik puLa.
BeLut berkuaLitas memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Anggota tubuh utuh dan muLus, tidak ada Luka gigitan atau goresan.
2. Gerakan Lincah dan agresif.
3. PenampiLan sehat yang dicirikan tubuh yang keras dan tidak Lemas jika dipegang.
4. Tubuh berukuran keciL dan berwarna kuning kecokLatan.
5. Bibit berumur 1 – 3 buLan.
Membesarkan beLut hingga siap panen dari bibit umur 1-3 buLan membutuhkan waktu 7 buLan dengan cara tradisionaL. Namun dengan cara intensif mampu dipersingkat menjadi hanya maksimaL 4 buLan dengan rata-rata berbobot 400 gram per ekor. Kunci suksesnya adaLah terLetak pada media dan pengaturan pakan.
Sifat kanibaL yang dimiliki beLut tidak akan terjadi seLama pembesaran jika pakan tersedia daLam jumLah yang cukup. Saat masih anakan beLut tidak akan saLing mengganggu. Sifat kanibaL baru muncul saat beLut berumur 10 buLan. Jadi tidak perLu khawatir memasukkan bibit daLam jumLah besar hingga ribuan ekor daLam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m. Pakan yang diberikan harus segar dan hidup, seperti ikan cetoL, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, beLatung dan bekicot. Pakan diberikan minimaL sehari sekaLi di atas jam 5 sore. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temuLawak (Curcuma xanthorhiza), caranya sekitar 200 gram temuLawak ditumbuk LaLu direbus dengan 1 Liter air. Air rebusan dituang ke koLam pembesaran seteLah dingin, jangan sekaLi-sekaLi memasukkan air yang panas karena beLut bias stres. PiLih tempat yang biasanya dipakai beLut bersembunyi. PeLet ikan dapat diberikan sebagai pakan seLingan untuk memacu pertumbuhan dengan ditaburkan ke seLuruh area koLm. Biasanya tak sampai beberapa menit anakan beLut segera habis meLahap. PeLet diberikan maksimal 3 kaLi seminggu dengn dosis 5% dari bobot beLut yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg maka peLet yang diberikan sekitar 2 kg.
Yang perLu diperhatikan seLain pakan adaLah kuaLitas air. Bibit beLut menyukai pH 5-7. SeLama pembesaran, biasanya sering terjadi perubahan air menjadi basa. Air basa akan tampak merah kecokeLatan. Penyebabnya antara Lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasiL metaboLisme. BeLut yang hidup pada kondisi ini akan cepat mati. Untuk mengatasinya maka pH air perlu secara rutin dipantau, jika terjadi perubahan maka segera diberi penetraLisir.
Kehadiran hama seperti burung, bebek, dan berang-berang harus diwaspadai. Mereka biasanya masuk jika kondisi koLam tidak terawat. Kehadiran mereka turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa diminimaLisir dengan membuat kondisi kolam bersih dan rapi serta kontroL rutin.
Suhu air pun perLu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28oC. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32oC, memerLukan hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideaL. Jika diperLukan siLakan memakai shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26oC. BiLa kondisi tersebut dapat terpenuhi maka pertumbuhan beLut akan maksimaL. Shading net dipasang di atas koLam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang. SeLanjutnya dipasang 3 saLuran seLang di tepi koLam untuk menciptakan hujan buatan. PerLakuan itu dapat menyeimbangkan suhu koLam sekaLigus menambah ketersediaan oksigen terLarut. Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati.
sumber gambar: google search engine
Pemasaran dapat diLakukan Langsung ke pasar-pasar, atau jika Anda dapat menjamin kuaLitas dan ketersediaan pasokan bisa juga menjaLin kerjasama dengan supermarket, tentu saja dengan modeL kemasan yang higienis dan bagus. Bahkan bukan tidak mungkin nantinya justru para tengkuLak atau pedagang yang akan datang menjemput beLut ke koLam Anda Langsung.
Semoga dapat memberi inspirasi dan bermanfaat bagi Anda yang tertarik, terimakasih…
























Komentar Terakhir