=Kenyataan Dunia=

10 08 2006

GEMPA DI NEGERI KAMPUNG MALING
Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul. Hadirlah bukti nyata bahwa Indonesia, “Negeri Kampung Maling”. Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka gempa sekalipun.

Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat hujan. Di tenda posko yang seadanya. Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para relawan membawa bantuan. Nyatanya, para relawan gadungan itu tega, teramat tega. Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa yang sedang diparkir di samping posko bantuan.
“Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa”.
“Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang kecurian”.
“Teganya mereka ya Allah”.
Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk para relawan, tetapi juga para manusia yang tak punya perasaan kemanusiaan.
***

KEJUJURAN KAIN KAFAN
Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka ke sekian bahwa warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit sudah menyerah. Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke sekian.

Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang. Meski demikian, uang 400 ribu diberikan ke seorang relawan. Misinya adalah mencari kain kafan. Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang jelas dia datang, menyatakan siap bergabung. Dari pagi hingga sore, tak ada kabar. Bendahara pun mulai gelisah.

Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa segulung kain kafan dengan muka sumringah.
“Saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana”.
Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa Tekstil, yang sudah bersiap tutup.
“Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban gempa”.
“Ambil saja Mas. Gratis”. Ada mata sayu, dan senyum sendu seiring suara tulus itu.
“Alhamdulillah”.

Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku celananya. Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke bendahara.
“Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai”.
Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa, karena sempat berprasangka buruk.
“Terimakasih mas”.
“Eh, siapa namamu”.
“Aris”.

Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Aris.
***

KEJUJURAN SANG LOPER KORAN
Pasca gempa.

Loper koran saya masih rajin berkeliling dengan sepeda ontelnya.
“Pak, bagaimana kondisi panjenengan”.
“Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi, rubuh.”
“Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak”
Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam, dan berlalu dengan sepeda ontelnya. Saya dan istri terdiam. Terpaku.

Esoknya.

“Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini ongkosnya”.
“Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya. Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan. Ibu bawa bantuan dan uang itu ke lokasi saja. Jangan diberikan kepada saya”.
Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah banyak korban berteriak meminta bantuan. Sang loper koran dengan
wajah lugunya, suara seraknya, tetap bertahan dengan idealisme sederhananya.
Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Pak Paijo.
***

[dikutif dari SEKATA – SukarElawan duKA YogyakarTA]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: