Serbuk Pahit & MasaLah

24 02 2007

Manusia adaLah makhLuk ciptaan Tuhan yang paLing sempurna di muka bumi, demikian yang tersebut daLam kata-kata mutiara serta ucapan para orang bijak. Namun manusia tetapLah manusia, kadang puLa mengaLami haL yang bernama masaLah, hambatan dan tantangan daLam hidup. Berbagai karakteristik yang meLekat pada diri manusia berbeda-beda antar satu dengan Lainnya, yang menyebabkan perbedaan sudut pandang, sikap serta cara hidup yang tidak sama puLa antar individu.

Di bawah ini terpetik sekeLumit kisah yang mungkin dapat kita renungkan maknanya daLam-daLam, terutama bagi para insan manusia yang sedang mengaLami beban masaLah.

TersebutLah daLam kisah seorang kakek tua yang biasa dipanggiL Kie Bijak, beLiau tinggaL sebatang kara di gubuk sederhana di pinggir hutan yang suasananya sangat asri. Kehidupan beLiau sangatLah bersahaja menikmati aLam tanpa mempeduLikan hiruk-pikuk keruwetan dunia nyata diLuaran sana. Kicau burung, gonggongan anjing hutan, gemericik air sungai serta desau angin menggesek dedaunan adaLah simfoni yang terdendangkan setiap saat, setiap hari, setiap waktu, yang senantiasa mengingatkan beLiau akan keagungan Yang Maha Kuasa.

Sampai suatu hari datangLah seorang LeLaki muda dengan tampang tiada sedikitpun terpancar semangat hidup. MeLangkah Lunglai seperti tak punya tujuan dengan tatapan kosong hampa. Tak dinyana bahkan sebeLum ditanya sudah meLedakLah tangis disertai raungan putus asa seakan hidupnya sudah tiada berharga. Kie Raha pun makLum dengan kondisi tamunya, dengan tenang dia memberikan kesempatan hingga reda tangis itu. DiuLungkannya segeLas air penawar dahaga untuk menenangkan raga sebeLum penawar jiwa yang sebenarnya.

Dari Cerita Si LeLaki Muda, terungkap bahwa dia sedang dirundung duka, masaLah hidup serta kemaLangan yang datang siLih berganti tiada berkesudahan. SegaLa cara teLah diLakukan tetapi apaLah daya, Yang Maha Kuasa beLum mengizinkan untuknya mencecap ketenangan serta kemenangan hidup, sampai akhirnya dia berjumpa dengan Kakek Tua Kie Bijak di tepi hutan. Tiada perLu disebutkan apa saja beban yang terpikuL di pundak Si LeLaki Muda satu per satu karena memang bukan itu intinya.

Ketika suasana kembaLi tenang, dengan gerakan haLus Kie Bijak mengeLuarkan bungkusan dari daLam kantung bajunya. TerlihatLah benda berwujud serbuk berwarna putih namun tiada berbau apapun, diberikannya sejumput ke LeLaki Muda untuk dimasukkan ke geLas air dan diminum. Seketika LeLaki Muda itu berteriak sambiL berusaha meLudahkannya keLuar muLut, “Pahit… Pahit SekaLi!!! Benda apakah itu Kie?” Dengan tersenyum Kie Bijak menjawab singkat, “Serbuk pahit.” Makin bingungLah LeLaki Muda, apakah gerangan maksud yang ingin disampaikan oLeh Kie Bijak kepadanya. Dengan tanpa menjeLaskan Lebih Lanjut, Kie Bijak mengajak LeLaki Muda menuju teLaga di daLam hutan. Mereka berjaLan tanpa bercakap sepatah katapun, hanya suasana syahdu hutan yang terasa hingga semakin menambah penasaran LeLaki Muda. SampaiLah di teLaga, airnya yang bening memantuLkan gerLap cahaya mentari bagaikan ribuan permata.

DudukLah Kie Bijak dan LeLaki Muda di tepi teLaga beberapa saat untuk meresapi suasana hingga tersentuh kaLbu dengan kedamaian. Gerak-gerik Kie Bijak mengeLuarkan serbuk pahit dari kantung baju tidak Luput oLeh LeLaki Muda karena dia sudah tak sabar mengetahui makna yang hendak disampaikan. OLeh Kie Bijak serbuk pahit itu diambiLnya beberapa jumput dan ditaburkan ke air teLaga, seteLah itu air yang ditaburi serbut pahit diambiLnya dengan kedua beLah tangan. Kie Bijak menyuruh LeLaki Muda meminum air tersebut, apa yang terjadi…?

“Wow segar sekaLi airnya Kie…!” LeLaki Muda masih beLum mengerti. Kie Bijak tersenyum, mengambiL nafas dan muLai berkata, “Hidup merupakan rangkaian perjaLanan yang kadang harus merasakan indah serta dukaLara. MasaLah ibarat serbuk pahit yang teLah engkau cecap tadi, jikaLau ditaruh di tempat yang ciut sempit maka sangatLah terasa pahit namun jikaLauLah ditaruh di tempat yang Luas daLam maka tiada terasa pahitnya. ItuLah intisari semuanya.”

Seketika LeLaki muda bersimpuh takzim menyaLami Kie Bijak sembari mengucap terimakasih sebesar-besarnya.

Apa khikmah yang dapat kita ambiL dari kisah di atas? Apakah Anda masih beLum jeLas juga dengan maksud Kie Bijak…? Jika Anda sudah bisa mengerti maksudnya, syukurLah… & berarti Anda termasuk orang yang pandai memaknai kisah. Namun jikaLau ternyata memang Anda beLum mendapatkannya, maka saya akan menerangkan sekaLi Lagi.

  1. Hidup adaLah rangkaian perjaLanan, akan kita temui keindahan serta dukaLara masaLah.
  2. Serbuk pahit yang jika ditaruh di tempat yang sempit/keciL seperti geLas maka akan terasa pahitnya, namun jika ditaruh di tempat yang Luas/besar seperti danau maka tak akan terasa pahitnya. Seperti ituLah masaLah, jika kita menjadikan diri kita ini sebagai geLas keciL maka masaLah akan terasa berat dan seakan tiada pernah ada penyeLesaian, namun jika kita jadikan diri kita sebagai danau yang Luas maka masaLah tiada akan terasa berat sehingga kita akan bisa menghadapi untuk menyeLesaikannya.
  3. Terkadang suatu makna harusLah dijeLaskan dengan perLahan dan tenang sehingga dapat tersampaikan dengan baik.
  4. Kesederhanaan bukan berarti tidak bisa apa-apa, terkadang sesuatu yang sederhana mengandung haL yang besar disebaLiknya, oleh karena itu jangan pernah menganggap remeh haL-haL yang sederhana.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kaLi ini, semoga dapat bermanfaat. SegaLa saran, kritik, bahkan caci-maki akan saya terima dengan Lapang dada untuk semakin mengkayakan hati saya. Akhir kata, terimakasih…


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: