BeriLah “Wanita Lain” untuk Suamimu

21 04 2007

SeLama ini ungkapan “wanita Lain” daLam sebuah keLuarga adaLah berarti racun yang siap membunuh keharmonisan rumah tangga. Stigma negatif meLekat begitu erat tak terbantahkan dengan begitu banyak peristiwa terputusnya taLi perkawinan waLaupun sudah berjaLan beLasan bahkan puLuhan tahun. Anda para pembaca semua akan saya ajak untuk meLihat “wanita Lain” untuk sebuah rumah tangga, yang justru akan membawa niLai positif serta akan membawa kita pada perenungan tentang cinta sejati. Tanpa bermaksud untuk menggurui ataupun mengajari, hanyaLah mencoba menyampaikan cerita sisi Lain kehidupan sebagai bahan perenungan & inspirasi kehidupan…

 

SeteLah menikah seLama dua puluh satu tahun akhirnya kutemukan cara untuk menjaga agar cahaya cinta tetap bersinar. Beberapa waktu yang LaLu, aku keLuar bersama wanita yang Lain dari biasanya. Gagasan itu justru dari istriku sendiri.

 

Aku yakin kau akan mencintainya,” kata istriku.

Tapi aku mencintaimu,” protesku.

Aku tahu itu, tapi kau juga akan mencintainya.

Sebenarnya wanita yang dimaksud istriku tidak Lain adalah ibuku sendiri yang teLah menjanda seLama 19 tahun, karena tuntutan pekerjaan dan tiga anakkuLah membuatku jarang mengunjunginya. Akhirnya, maLam itu aku meneLepon untuk mengajaknya kencan makan maLam dan nonton bioskop.

Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?” ibuku balik bertanya. Ibuku termasuk tipe orang yang beranggapan bahwa teLepon di Larut maLam dan undangan mendadak adaLah pertanda berita buruk. “Kupikir akan sangat menyenangkan meLewatkan waktu bersamamu Bu’…” jeLasku. “Hanya kita berdua saja.

Dia berpikir sejenak Lalu berkata, “Aku setuju dengan rencanamu itu.” Jumat itu, seteLah kerja, aku meLuncur ke rumahnya untuk menjemput. Kuakui kumerasa sedikit geLisah. Sesampainya di sana, kuperhatikan dia juga agak saLah tingkah. Dia memakai manteL, menunggu di depan pintu. Rambutnya dikeriting dan memakai baju yang dikenakannya di uLang tahun perkawinannya yang terakhir. Dia tersenyum dengan wajah seberseri bidadari.

Aku bercerita kepada teman-temanku bahwa aku kencan dengan anakku. Mereka terkesan,” katanya sambiL memasuki mobiL. “Mereka tidak sabar menunggu cerita pertemuan kita ini.” Kami pergi ke restoran yang cukup baik dan nyaman. Ibuku menggandeng tanganku seakan-akan ia adalah istri seorang presiden. SeteLah kami duduk, kubaca menu. Mata ibuku hanya bisa meLihat tuLisan yang tercetak dengan huruf besar. SeLama makan kuperhatikan ibu seLaLu menatapku. Senyuman nostaLgia tersungging di bibirnya.

Biasanya, aku yang seLaLu membacakan menu ketika kau masih keciL,” kata ibu.

Sekarang santaiLah, biar aku yang ganti membaca untuk membaLas kebaikan ibu,” jawabku.

Sepanjang waktu makan maLam, kami terLibat daLam pembicaraan yg mengasyikkan. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, hanya tentang kejadian-kejadian terakhir daLam kehidupan kami berdua. Kami bicara banyak sampai Lupa acara nonton film. Sampai akhirnya aku mengantarnya pulang.

Aku akan keLuar Lagi bersamamu, tapi atas undanganku,” kata ibuku. “KaLau kau setuju?

 

Aku segera menyatakan persetujuanku. Sesampainya di rumah, istriku bertanya,

Bagaimana acara makan maLammu?

Sangat menyenangkan. Jauh Lebih menyenangkan dari yang kubayangkan,” jawabku.

Beberapa hari kemudian ibuku meninggaL dunia karena serangan jantung. Kejadian itu begitu mendadak sehingga aku tidak sempat berbuat apa-apa. Aku menerima ampLop ibuku yang berisi kwitansi tanda Lunas dari sebuah rumah makan yang rencananya akan kami kunjungi berdua. AmpLop itu juga berisi secarik surat yang berbunyi :

TeLah kubayar Lunas. Mungkin aku tidak bisa ke sana bersamamu, tapi aku tetap membayar untuk dua orang: untukmu dan istrimu. Kau takkan pernah tahu arti maLam itu bagiku. Aku mencintaimu!

Saat itu aku baru menyadari betapa pentingnya mengucapkan: “Aku Mencintaimu” dan memberi orang yang kita cintai dengan waktu yang Layak diterimanya.

 

DaLam hidup ini tiada ada yang Lebih penting dari Tuhan dan keLuargamu. Luangkan waktu yang Layak bagi mereka karena haL itu tak dapat ditunda sampai waktu Lain…


Aksi

Information

6 responses

21 04 2007
mca

enlightening,
jadi pengen pulang kampung dan ketemu emak gw🙂

rgds
MCA

21 04 2007
arezk

SaLam Hormat Bang…
terimakasih teLah berkunjung,
mohon ijin untuk saya add Link situs Abang.

SaLam juga untuk Ibunda Abang…

=SaLam.dr.Jogja=

26 04 2007
superkecil

sebener nya uda pernah baca cerita ini
tapi…
karena ceritanya bagus bangettt….
aku baca lagi….

26 04 2007
superkecil

kok link-ku ga muncul juga ya?

26 04 2007
arezk

@SuperKeciL:
memang kisahnya sangat bagus banget, mengingatkan saya pada sosok ibu yang jauh & jarang saya kunjungi, jauh di kampuang sono…
(maafkan anakmu ini ya…Ibu)
anyway, pernah mbaca dimana? kisah ini saya dapatkan dari seorang rekan, karena terasa begitu daLam maknanya… jadi sapa post @WordPress agar semakin banyak yang bisa membacanya…

coba Anda uthak-uthik Lagi settingan WordPress-nya, kaLi-kaLi ada yang beLum pas… untuk detaiL teknisnya siLakan mohon pencerahan kepada para senior kita.

demikian…
=SaLam=

24 05 2007
joesatch

aku juga lagi kangen ibu
Arezk :
SiLahken Langsung aja dikontak via phone or Video CaLLing (its Better)
atawa sekaLian segera meLesat menuju pangkuan ibu&mencium teLapak kakinya…
“hikz…Q jd ikutan rindu nieh Bro…”

=SaLam=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: